Revolusi Industri
A. Pengertian
Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan.
Sedangkan pengertian Revolusi Industri yaitu perubahan yang cepat di bidang ekonomi yaitu dari kegiatan ekonomi agraris ke ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Revolusi Industri telah mengubah cara kerja manusia dari penggunaan tangan menjadi menggunakan mesin. Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19.
B. Latar Belakang
Pada abad pertengahan, kehidupan di Eropa diwarnai oleh system feodalisme yang mengandalkan sektor pertanian, lazim disebut Latifundia (pertanian tertutup) Hubungan perdagangan antara Eropa dengan dunia Timur (Timur Tengah dan Asia lainnya) tertutup setelah perdagangan di Laut Tengah dikuasai oleh para pedagang Islam abad ke 8 sampai abad ke 14.
Dengan meletusnya perang salib (1096-1291) hubungan Eropa dengan dunia Timur hidup kembali. Muncul kota-kota dagang antara lain Geonoa, Florence dan Venesia yang semula menjadi pusat pemberangkatan pasukan salib ke Yerusalem.
Lahirnya kembali kota-kota dagang diikuti oleh munculnya kegiatan industri rumahan (home industry). Dari kegaitan ini terbentuklah Gilda yaitu perkumpulan dari pengusaha sejenis yang mendapat monopoli dan perlindungan usaha dari pemerintah. Gilda hanya memproduksi jika ada pesanan dan hanya satu jenis barang yang diproduksi misalnya gilda roti, gilda sepatu, gilda senjata dan lain-lain.
Sejak tahun 1350 (abad 14) muncul organisasi perserikatan kota-kota dagang di Eropa utara yang disebut Hansa. Tujuan pembentukan hausa adalah untuk bersama-sama melindungi usaha perdagangan didukung oleh armada laut dan pasukan sendiri.
Kemudian pada abad 15 dan 16, ditemukan banyak wilayah baru atau tanah jajahan di Afrika, Asia, dan Amerika oleh pelaut-pelaut Eropa sehingga berkembanglah perdagangan lewat laut yang kemudian mengakibatkan terbentuknya kaum borjuis yang kaya dan sangat berpengaruh di Inggris, Nederland, Prancis, beberapa daerah di Jerman dan Italia. Kemunculan golongan menegah ini, yang menguasai sektor ekonomi dan melahirkan kapitalisme, akhirnya berhadapan dan melahirkan ketegangan dengan tuan tanah yang telah mendominasi sebelumnya.
Revolusi ini ditandai dengan penyebaran Pencerahan, keberhasilan para filsuf dan karya - karya mereka. Mereka berupaya memperluas kemampuannya dalam menguasai alam dan memperbanyak pengetahuannya. Yang terpenting, dalam kaitannya dengan ekonomi, mereka bertekad mengurangi dan mengganti kerja kasar atau tenaga manusia dengan mesin. Kecenderungan ini terjadi menjelang tahun 1750, di Prancis, Jerman, Nederland dan terutama di Inggris.
Dengan adanya bahan mentah yang melimpah dari tanah jajahan ditambah kecenderungan untuk efisiensi kerja untuk menghasilkan yang sebesar-besarnya, maka perdagangan yang ada saat telah menghapus ekonomi semi-statis abad-abad pertengahan menjadi kapitalisme yang dinamis yang dikuasai oleh pedagang, bankir, dan pemilik kapal. Inilah awal dari perubahan yang cepat dan keras dalam dunia ekonomi yang kemudian memunculkan Revolusi Industri, yang bukan hanya bergerak dalam perdagangan, tetapi meluas juga pada dunia produksi.
Sebenarnya, ada 2 faktor yang melatar belakangi terjadinya revolusi industri, yaitu :
1. Faktor Ekstern
a. Terjadinya revolusi ilmu pengetahuan abad 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, Rene Descartes, Galileo Galilei, Copernicus, Isaac Newton dan lain-lain.
b. Ditunjang adanya lembaga-lembaga riset yaitu:
• The Royal Society for Improving Natural Knowledge
• The Royal Society of England (1662)
2. Faktor Intern:
a. Keamanan dan politik dalam negeri yang mantap
b. Berkembangnya kegiatan wiraswasta dari masyarakat kaya dan pemilikmodal
c. Munculnya minat masyarakat pada industri manufaktur
d. Inggris, memiliki jajahan yang luas
e. Kaya akan sumber alam antara lain batubara (cokes) dan biji besi yang tinggi mutunya.
f. Munculnya paham ekonomi liberal
g. Munculnya revolusi agraria yaitu perubahan sangat cepat dalam penataan tanah dengan berlakunya metode baru dalam pertanian yaitu dengan:
• pemagaran dan pengelolaan yang terus- menerus
• pemupukan
• irigasi
h. Pada abad 17 berkembanglah dunia pelayaran dan perdagangan. Di Inggris banyak berdiri kongsi dagang seperti : EIC, Virginia Co, Plymouth Co dan Massachussets Bay Co.
C. Kemunculan Revolusi Industri
Tidak diketahui kapan tepatnya revolusi industri dimulai. Ada yang berpendapat bahwa revolusi industri dimulai sejak Abad Pencerahan, bahkan ada juga yang berpendapat sejak masa Yunani. Akan tetapi secara umum dikatakan bahwa revolusi industri berawal dari negara Inggris sekitar tahun 1760. Inggris mendahului negara-negara lainnya dalam hal pembangunan pabrik-pabrik yang menggunakan mesin-mesin berat.
D. Wujud Revolusi Industri
Revolusi industri, pertama kali, ditandai dengan penggunaan mesin untuk pabrik pemintalan kapas. Dari tahun 1760 sampai 1870 banyak disaksikan penggunaan mesin-mesin ini. Salah satu yang dikembangkan adalah mesin pemintal benang yang diberi nama “Jenny” yang diciptakan James Hargreaves, pada tahun 1767, yang diambil dari nama istrinya. Hanya saja, mesin ini ternyata tidak kuat, sampai di temukannya kerangka air oleh Ricard Arkwight dua tahun kemudian. Pada tahun 1779, Samuel Croupton menggabungkan alat pemintal “Jenny”
dengan karangka air menjadi sebuah mesin yang diberi nama “Mule”. Salanjutnya, ditemukan juga mesin tenun oleh Cartwright pada tahun 1785 yang disempurnakan beberapa tahun kemudian.
Penemuan-penemuan ini, pada gilirannya mendorong munculnya sistem pabrik. Sebab, mesin pemintal benang, kerangka air, penggulung benang dan lainnya adalah mesin-mesin besar dan berat yang tidak bisa dipasang di kedai yang dioperasionalkan oleh seorang pekerja. Artinya, disini perlu dana dan lahan yang besar. Untuk itulah, maka pada pertama kalinya, tahun 1771, Ricard A, penemu mesin kerangka air, mendirikan sebuah pabrik.
Mesin Pemintal
Pada perkembangan selanjutnya, dengan ditemukan mesin uap yang bisa dipergunakan sebagai penggerak mesin berat, sistem pabrik menjadi semakin berkembang. Pada gilirannya, sistem kerja mesin-mesin dalam pabrik ini kemudian melahirkan temuan-temuan mesin baru yang mendorong lahirnya industri-industri besar berikutnya.
Pada tarap berikutnya, munculnya industri-industri besar hasil penemuan mesin-mesin “sederhana” sebelumnya, melahirkan penemuan dalam bidang tranportasi, kereta api, kendaraan bermesin (otomobil), navigasi uap (kapal uap), telegram dan alat-alat pertanian. Kenyataan ini, pada gilirannya juga melahirkan industri baru untuk mendukung penemuan-penemuan tersebut.
Penemuan –penemuan lainya :
a. John Kay menemukan kumparan terbang.
b. Edmund Cartwright menemukan alat tenun dengan tenaga uap tahun 1785.
c. James Watt menemukan mesin uap yang dipatenkan pada tahun 1796.
d. George Stephenson menemukan Kereta Api yang dinamakannya “Rocket” pada tahun 1829.
Atas hasil temuannya James Watt sering digelari sebagai Bapak Revolusi Industri walaupun sebenarnya penemuannya merupakan penyempurnaan dari mesin uap hasil penemuan Thomas New Comen tahun 1712.
Mesin Uap Watt
Penemuan berikutnya tidak hanya dibidang mesin produksi tekstil saja tetapi juga alat transportasi darat, laut dan udara, elektronika yaitu pesawat telepon, telegraph dan radio serta bidang kimia. Penemuan tidak hanya di Inggris melainkan juga merambah ke negara lain seperti Perancis, Italia, Belanda, Amerika Serikat , dst.
“Rocket” George Stephenson
Untuk sampai pada tingkat industri modern, pembuatan barang-barang dimulai dari tingkat kerajinan yang secara bertahap berkembang sebagai berikut:
a. Domestic System (kerajinan rumah tangga), ciri - cirinya adalah:
- pengrajin membuat barang-barang di rumah masing-masing dan dikerjakan secara manual.
- menggunakan alat produksi yang masih trasidional milik sendiri.
- hasil produksi dijual kepada pengusaha
b. Industri Manufaktur
- pekerja bekerja di rumah majikan dengan alat produksi yang masih digerakkan dengan tenaga manusia
- jumlah pekerja sekitar 10 orang
- rumah majikan berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat bekerja sekaligus tempat berjualan.
c. Factory System
- memproduksi barang-barang secara masal
- menggunakan mesin
- tempat berproduksi di kawasan industri terpisah dengan tempat tinggal dan tempat penjualan barang
Industrialisasi berkembang pesat di Inggris buktinya jika pada abad 17 Inggris mengimpor bahan katun dari India yang disebut Kaliko maka setelah revolusi industri India berbalik mendatangkan kain buatan Inggris. Pada tahun 1851 ratu Victoria membuka pameran mesin-mesin. Selain itu pada peta di bawah ini tampak bertebaran pusat-pusat industri dan pertambangan di seluruh Inggris.;
Peta pusat industri dan pertambangan Inggris
E. Revolusi Industri Kedua
Setelah berjalan satu abad, sekitar tahun 1860, Revolusi Industri memasuki fase baru yang berbeda dari apa yang sudah lalu, yang dikenal sebagai Revolusi Industri tahap kedua. Kejadian-kejadian yang terjadi pada periode itu terutama ada tiga hal : perkembangan proses Bessemer dalam membikin baja pada tahun 1856; penyempurnaan dinamo kira-kira pada tahun 1873; dan penciptaan mesin pembakaran di dalam pada tahun 1876. Perbedaan antara Revolusi Industri tahap kedua ini dibanding tahap pertama adalah, (1) adanya penggantian baja ditempat besi sebagai bahan industri pokok; (2) penggantian batu arang dengan gas dan minyak sebagai sumber pokok tenaga dan penggunaan listrik sebagai bentuk pokok tenaga industri; (3) perkembangan mesin otomatis dan peningkatan yang tinggi spesialisasi buruh; (4) penggunaan campuran dan metal yang ringan dan hasil industri kimia; (5) perubahan radikal dalam transportasi dan komunikasi; (6) pertumbuhan bentuk-bentuk baru organisasi kapitalis; dan (7) tersiarnya industrialisasi di Eropa Tengah dan Timur dan bahkan di Timur Jauh.
F. Dampak – Dampak Revolusi Industri
Dampak revolusi industri bagi umat manusia terasa dalam berbagai bidang, yaitu :
1. Munculnya industri secara besar-besaran.
2. Peningkatan mutu hidup, hidup menjadi lebih dinamis, manusia bisa menciptakan berbagai produksi untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Harga barang menjadi murah. Mengapa bisa murah? Coba bayangkan berapa ongkos produksi sehelai baju yang diproduksi dengan mesin dibandingkan produksi dengan alat-alat tradisional!
4. Meningkatnya urbanisasi ke kota-kota industri.
5. Berkembangnya kapitalisme modern.
6. Golongan kapitalis mendesak pemerintah untuk menjalankan imperialisme modern.
Dampak negatif revolusi industri khususnya di Inggris adalah upah buruh yang murah menyebabkan timbulnya keresahan yang berakibat pada munculnya kriminalitas dan kejahatan.
Upaya untuk memperbaiki nasib buruh dan masalah sosial di Inggris melahirkan aliran sosialisme dan revolusi sosial yang ditandai dengan keluarnya undang-undang berikut ini:
1. Catholic Emancipation Bill (1829) menetapkan hak yang sama bagi umat protestan dan katolik untuk menjadi pegawai negeri dan anggota parlemen . Sebelumnya berlaku Test Act sejak tahun 1673 yang melarang umat katolik menjadi pegawai negeri dan anggota Parlemen, sehingga mereka banyak yang pindah terutama ke Amerika.
2. Abolition Bill (1833) berisi penghapusan system perbudakan di daerah jajahan Inggris.
3. Factory Act (1833) yang menetapkan:
a. Anak-anak yang berusia 9 tahun tidak boleh dipekerjakan sebagai buruh perusahaan dan tambang.
Buruh Anak -anak
b. Anak -anak di atas usia 9 tahun boleh bekerja 9 jam sehari dengan 2 jam mendapat pendidikan dari majikan.
Pada tahun 1842 muncul undang-undang yang melarang kaum wanita dan anak-anak untuk bekerja di perusahaan tambang. Mengapa demikian? karena keadaan yang menyedihkan seperti pada gambar 1.6, mereka bekerja di lorong-lorong pertambangan yang gelap di bawah tanah dengan badan dirantai. Bekerja lebih dari 10 jam per hari dengan gaji rendah.
4. Poor Law (1834) berisi pendirian rumah-rumah bagi pengemis dan penganggur agar tidak berkeliaran. Bantuan bagi yang berusia lanjut serta perawatan bagi penganggur dan pengemis yang cacat atau sakit.
Source : Internet Link Created by F.S.
Senin, 28 September 2009
Kamis, 24 September 2009
Mamahami Nasionalisme Baru dari “Inspirasi Latin Amerika”
Mamahami Nasionalisme Baru dari “Inspirasi Latin Amerika”
Jumat, 1 Mei 2009 | 10:05 WIB
Oleh: Andri A.
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UGM
Peneliti di Democracy&Conflict Governance Institute (DCGI)
Di balik gemuruh neososialisme, memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan, model seperti apakah yang dilalui Negara-negara Amerika Latin untuk melawan gelombang neoliberal dengan memperkuat politik regional? Apakah praktik-praktik proyek sosial Amerika Latin memungkinkan terjadi di negara seperti Indonesia?
Untuk pertanyaan pertama bisa diamati bahwa, dalam latar sejarah berakhirnya perang dingin dengan kemenangan ide-ide liberal dengan wewenang Amerika Serikat ternyata masih menyisakan kekuatan-kekuatan “popular” yang masih tetap bertahan untuk melawan jerat neoliberalisme. Untuk lebih mudah mengidentifikasi sekurang-kurangnya beberapa individu masih bisa disebut sebagai yang masih tetap bertahan, sebut saja Salvador Allende di Chile, Fidel Castro di Cuba, ataupun Ernesto “Che” Guevara. Juga dengan kelompok-kelompok gerilya, Tupac Amaru di Peru, Montoneros di Argentina, Popular Revolutionary Vanguard (VPR) di Brazil, serta Sandinista (FSLN –Frente Sandinista de Liberacion Nacional-) di Nikaragua. Juga peran signifikan dari pemikiran Teologi Pembebasan (Theology of Liberation) yang memperkuat pemberdayaan masyarakat sipil lewat figure pendeta/pastur ataupun para intelektual.
Dengan masih tersebarnya kekuatan tersebut, sebenarnya bukanlah sebuah fenomena baru tentang “popular” di Latin Amerika dan memungkinkan sudah menjadi tradisi yang sudah terbentuk dan menjadi landasan masyarakat serta selalu memperbarui dalam kualitasnya. Meski dengan tradisi yang cukup mengakar bukan berarti tanpa ancaman.
Kawasan Amerika Latin beberapa kali mengalami kudeta militer yang melahirkan rezim otoriter seperti di Brazil 1964, Bolivia 1971, Uruguay 1973, serta Argentina 1969 dan 1976. Medio 10 tahun kemarin —keberhasilan Chaves di Venezuela 1998, Lula da Silva di Brazil 2002, Kirchner di Argentina 2003, Vasquez di Uruguay 2004— menguatkan kembali bentuk neososialisme di Amerika Latin. Di tambah dengan kemenangan Evo Morales di Bolivia, Daniel Ortega di Nacaragua, Rafael Correa di Ecuador, dan Michelle Bachelet di Chile pada tahun-tahun terakhir, penentangan dan perlawanan terhadap globalisasi-neoliberal menjadi semakin besar. Kudeta itu disertai perubahan-perubahan penting seperti pada renegoisasi kontrak kerja dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang merugikan mereka hingga menentang rezim ekonomi global seperti Bank dunia dan IMF.
Krisis dan kekecewaan pada praktik neoliberal di Latin Amerika muncul ketika kinerja neoliberalisme ternyata meleset dari apa yang dicanangkan. Medio 1990an kondisi kemiskinan yang meningkat, defisit pembayaran utang luar negeri, dan ekspor yang sulit akibat dari tingginya nilai mata uang, serta suku bunga AS meningkat menyebabkan semakin parah beban utang luar negeri. ILO memperkirakan bahwa presentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat dari 23 persen menjadi 27,8 persen di Latin Amerika. (Castel, 2000).
Pemetaaan Peluang Gerakan Nasionalisme baru di Indonesia
Latin Amerika dengan neososialisme-nya saat ini, sebenarnya diperkuat dengan karakter sosial dan kultural serta bukan semata-mata sebuah ideologi seperti pada era perang dingin di Sovyet. Bagaimana dengan karakter social dan cultural kita dalam membangun gerakan nasionalisme pembaharu untuk kemanusian dan keadilan social di Indonesia.
Pertama, karakter sosial dan kultural di Indonesia adalah organisasi-organisasi rakyat yang bergerak di ranah sosial dan keagamaan termasuk didalamnya individu-individu yang mampu membawa dan menggerakkannya. Kita pernah memiliki Nurcholish Madjid (Alm) dengan tawaran inklusifitas dan keterbukan terhadap idea of progress antar umat serta keterlibatannya dalam pengembangan budaya oposisi. Y.B. Maungunwijaya (Alm) dengan beyond nation-nya serta keterlibatan intensifnya dalam pendampingan masyarakat Kali Code dan mengembangkan pendidikan alternative bagi kelompok miskin. Pun dengan Abdurrahman Wahid yang selalu memberdayakan dan menekankan pentingnya kekuatan peran masyarakat sipil dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Kedua, karakter social dan cultural dalam gerakan juga tidak melewatkan peranan kelompok muda. Situasi “Rengasdengklok” pada peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia, kelompok muda mejadi factor dominan. Peristiwa transisi rezim orde lama ke orde baru dimana kelompok muda sebagai penyeimbang pertarungan elit politik. Reformasi 1998 juga kelompok muda sebagai motor penggerak untuk menjatuhkan Presiden Soeharto. Sekarang saatnya kita harus mengapresiasi kelompok muda (angkatan 98 dan penerus-penerus baru) yang masih berjuang di garis massa. Tidak menjadi masalah bagaimana taktis perjuangan para kelompok muda tersebut, baik terlibat dalam partai politik, organisasi-organisasi massa, NGO, ataupun individu. Yang menjadi titik berat adalah gerakan kelompok muda yang masih menjaga konsistensi untuk memperkuat dan memberdayakan rakyat demi kemanusiaan, serta melakukan perubahan ke arah keadilan dan kesejahteraan rakyat itu sendiri.
Ketiga, karena saat ini Partai Politik masih menjadi pintu untuk pergantian dan perubahan kepemimpinan politik di Indonesia maka sangat perlu mengajak konstituen partai politik untuk melakukan kritik, evaluasi, dan mendorong perubahan internal partai dalam program-program populis kepentingan dan kebutuhan hidup rakyat. Proses demokratik dalam perubahan politik harus di mulai dari membangun kesadaran konstituen partai politik untuk memilih berpolitik yang baik dan memihak kepada rakyat. Fenomena ‘golput’ di Pilkada hingga Pemilu 2009 yang telah berlangsung, di salah satu sisi memang mengindikasikan tingkat kritis rakyat dalam memilih, tetapi di sisi lain yang menjadi berbahaya adalah pesimisme rakyat dalam berpolitik. Jika pesimisme ini semakin membesar maka harapan untuk membangun gerakan social-politik nasional semakin menjauh dan menjadi lebih berbahaya jika kerinduan politik diidealkan dalam bentuk kestabilan sebuah rezim saja.
Kolaborasi dialektis antar golongan di masyarakat sipil dan masyarakat politik inilah yang memungkinkan adanya rumusan-rumusan baru ‘nasionalisme Indonesia’ (yang merupakan pembebas dari kekuatan eksploitatif dari luar—neoimperialisme—maupun dari dalam—neopopulisme feodal—) dalam menghadapi kekuatan praktik-praktik neoliberal yang tidak melindungi masyarakat dari kemiskinan, mahalnya pendidikan dan kesehatan, budaya yang seragam dan konsumtif serta kerusakan lingkungan hidup.
Bisa jadi kolaborasi tersebut tidak menggunakan istilah seperti “sosialisme atau neososialisme” mengingat traumatic sejarah (khusunya pergulatan politik 1965) masyarakat kita yang mungkin terlalu rumit proses healing-nya. Belajar dari pengalaman sejarah para pendiri bangsa ini yang mampu untuk merumuskan karakter social-politik dan ekonomi politik, dengan membangun geostrategi-geopolitik internasional dengan New Emerging Force Asia-Afrika dan memperkuat ekonomi politik nasional dengan “Koperasi”, yang kesemuanya ditujukan untuk melawan Kolonialisme dan Imperialisme Barat (yang juga menginspirasi negara-negara di Amerika Latin pada masa itu). Tradisi dan modal social-politik yang pernah ada dari sejarah terbentuknya bangsa ini yang harus kita fahami kembali.
Jumat, 1 Mei 2009 | 10:05 WIB
Oleh: Andri A.
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UGM
Peneliti di Democracy&Conflict Governance Institute (DCGI)
Di balik gemuruh neososialisme, memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan, model seperti apakah yang dilalui Negara-negara Amerika Latin untuk melawan gelombang neoliberal dengan memperkuat politik regional? Apakah praktik-praktik proyek sosial Amerika Latin memungkinkan terjadi di negara seperti Indonesia?
Untuk pertanyaan pertama bisa diamati bahwa, dalam latar sejarah berakhirnya perang dingin dengan kemenangan ide-ide liberal dengan wewenang Amerika Serikat ternyata masih menyisakan kekuatan-kekuatan “popular” yang masih tetap bertahan untuk melawan jerat neoliberalisme. Untuk lebih mudah mengidentifikasi sekurang-kurangnya beberapa individu masih bisa disebut sebagai yang masih tetap bertahan, sebut saja Salvador Allende di Chile, Fidel Castro di Cuba, ataupun Ernesto “Che” Guevara. Juga dengan kelompok-kelompok gerilya, Tupac Amaru di Peru, Montoneros di Argentina, Popular Revolutionary Vanguard (VPR) di Brazil, serta Sandinista (FSLN –Frente Sandinista de Liberacion Nacional-) di Nikaragua. Juga peran signifikan dari pemikiran Teologi Pembebasan (Theology of Liberation) yang memperkuat pemberdayaan masyarakat sipil lewat figure pendeta/pastur ataupun para intelektual.
Dengan masih tersebarnya kekuatan tersebut, sebenarnya bukanlah sebuah fenomena baru tentang “popular” di Latin Amerika dan memungkinkan sudah menjadi tradisi yang sudah terbentuk dan menjadi landasan masyarakat serta selalu memperbarui dalam kualitasnya. Meski dengan tradisi yang cukup mengakar bukan berarti tanpa ancaman.
Kawasan Amerika Latin beberapa kali mengalami kudeta militer yang melahirkan rezim otoriter seperti di Brazil 1964, Bolivia 1971, Uruguay 1973, serta Argentina 1969 dan 1976. Medio 10 tahun kemarin —keberhasilan Chaves di Venezuela 1998, Lula da Silva di Brazil 2002, Kirchner di Argentina 2003, Vasquez di Uruguay 2004— menguatkan kembali bentuk neososialisme di Amerika Latin. Di tambah dengan kemenangan Evo Morales di Bolivia, Daniel Ortega di Nacaragua, Rafael Correa di Ecuador, dan Michelle Bachelet di Chile pada tahun-tahun terakhir, penentangan dan perlawanan terhadap globalisasi-neoliberal menjadi semakin besar. Kudeta itu disertai perubahan-perubahan penting seperti pada renegoisasi kontrak kerja dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang merugikan mereka hingga menentang rezim ekonomi global seperti Bank dunia dan IMF.
Krisis dan kekecewaan pada praktik neoliberal di Latin Amerika muncul ketika kinerja neoliberalisme ternyata meleset dari apa yang dicanangkan. Medio 1990an kondisi kemiskinan yang meningkat, defisit pembayaran utang luar negeri, dan ekspor yang sulit akibat dari tingginya nilai mata uang, serta suku bunga AS meningkat menyebabkan semakin parah beban utang luar negeri. ILO memperkirakan bahwa presentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat dari 23 persen menjadi 27,8 persen di Latin Amerika. (Castel, 2000).
Pemetaaan Peluang Gerakan Nasionalisme baru di Indonesia
Latin Amerika dengan neososialisme-nya saat ini, sebenarnya diperkuat dengan karakter sosial dan kultural serta bukan semata-mata sebuah ideologi seperti pada era perang dingin di Sovyet. Bagaimana dengan karakter social dan cultural kita dalam membangun gerakan nasionalisme pembaharu untuk kemanusian dan keadilan social di Indonesia.
Pertama, karakter sosial dan kultural di Indonesia adalah organisasi-organisasi rakyat yang bergerak di ranah sosial dan keagamaan termasuk didalamnya individu-individu yang mampu membawa dan menggerakkannya. Kita pernah memiliki Nurcholish Madjid (Alm) dengan tawaran inklusifitas dan keterbukan terhadap idea of progress antar umat serta keterlibatannya dalam pengembangan budaya oposisi. Y.B. Maungunwijaya (Alm) dengan beyond nation-nya serta keterlibatan intensifnya dalam pendampingan masyarakat Kali Code dan mengembangkan pendidikan alternative bagi kelompok miskin. Pun dengan Abdurrahman Wahid yang selalu memberdayakan dan menekankan pentingnya kekuatan peran masyarakat sipil dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Kedua, karakter social dan cultural dalam gerakan juga tidak melewatkan peranan kelompok muda. Situasi “Rengasdengklok” pada peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia, kelompok muda mejadi factor dominan. Peristiwa transisi rezim orde lama ke orde baru dimana kelompok muda sebagai penyeimbang pertarungan elit politik. Reformasi 1998 juga kelompok muda sebagai motor penggerak untuk menjatuhkan Presiden Soeharto. Sekarang saatnya kita harus mengapresiasi kelompok muda (angkatan 98 dan penerus-penerus baru) yang masih berjuang di garis massa. Tidak menjadi masalah bagaimana taktis perjuangan para kelompok muda tersebut, baik terlibat dalam partai politik, organisasi-organisasi massa, NGO, ataupun individu. Yang menjadi titik berat adalah gerakan kelompok muda yang masih menjaga konsistensi untuk memperkuat dan memberdayakan rakyat demi kemanusiaan, serta melakukan perubahan ke arah keadilan dan kesejahteraan rakyat itu sendiri.
Ketiga, karena saat ini Partai Politik masih menjadi pintu untuk pergantian dan perubahan kepemimpinan politik di Indonesia maka sangat perlu mengajak konstituen partai politik untuk melakukan kritik, evaluasi, dan mendorong perubahan internal partai dalam program-program populis kepentingan dan kebutuhan hidup rakyat. Proses demokratik dalam perubahan politik harus di mulai dari membangun kesadaran konstituen partai politik untuk memilih berpolitik yang baik dan memihak kepada rakyat. Fenomena ‘golput’ di Pilkada hingga Pemilu 2009 yang telah berlangsung, di salah satu sisi memang mengindikasikan tingkat kritis rakyat dalam memilih, tetapi di sisi lain yang menjadi berbahaya adalah pesimisme rakyat dalam berpolitik. Jika pesimisme ini semakin membesar maka harapan untuk membangun gerakan social-politik nasional semakin menjauh dan menjadi lebih berbahaya jika kerinduan politik diidealkan dalam bentuk kestabilan sebuah rezim saja.
Kolaborasi dialektis antar golongan di masyarakat sipil dan masyarakat politik inilah yang memungkinkan adanya rumusan-rumusan baru ‘nasionalisme Indonesia’ (yang merupakan pembebas dari kekuatan eksploitatif dari luar—neoimperialisme—maupun dari dalam—neopopulisme feodal—) dalam menghadapi kekuatan praktik-praktik neoliberal yang tidak melindungi masyarakat dari kemiskinan, mahalnya pendidikan dan kesehatan, budaya yang seragam dan konsumtif serta kerusakan lingkungan hidup.
Bisa jadi kolaborasi tersebut tidak menggunakan istilah seperti “sosialisme atau neososialisme” mengingat traumatic sejarah (khusunya pergulatan politik 1965) masyarakat kita yang mungkin terlalu rumit proses healing-nya. Belajar dari pengalaman sejarah para pendiri bangsa ini yang mampu untuk merumuskan karakter social-politik dan ekonomi politik, dengan membangun geostrategi-geopolitik internasional dengan New Emerging Force Asia-Afrika dan memperkuat ekonomi politik nasional dengan “Koperasi”, yang kesemuanya ditujukan untuk melawan Kolonialisme dan Imperialisme Barat (yang juga menginspirasi negara-negara di Amerika Latin pada masa itu). Tradisi dan modal social-politik yang pernah ada dari sejarah terbentuknya bangsa ini yang harus kita fahami kembali.
Selasa, 22 September 2009
BLOG REFFERENSI PERGERAKAN INI MEMUAT DATABASE THEORY DAN PRAKTEK PERGERAKAN
REFFERENSI PERGERAKAN BARA-NI
ADALAH BAHAN-BAHAN PEMBANDING BAIK DALAM BENTUK THEORY MAUPUN PRAKTEK , PENGALAMAN UNTUK MENJADI PEMBELAJARAN PERGERAKAN yang berkualitas BAGI BARA-NI .PEMBELAJARAN YANG DIMAKSUD BUKAN BERARTI DI ADOPSI SECARA TOTAL, SEBALIKNYA KAUM PERGERAKAN HARUS BANYAK BELAJAR DARI BERBAGAI PERGERAKAN SEBELUMNYA.
SEJARAH TIDAK BOLEH DIABAIKAN DAN TIDAK BOLEH DI BUANG , BAIK ITU BESAR ATAUPUN KECIL, BENAR ATAUPUN SALAH , GAGAL ATAUPUN BERHASIL tak terkecuali juga untuk Organisasi seperti BARA-NI.
ungkapan untuk ditelaah :
DUNIAKU SELEBAR BAHASAKU
( Wittsgentein )
BAHASAKU SELEBAR ROMBAHAN KAKIKU
artinya adalah
DUNIA PENGETAHUAN KITA SEBATAS PENGALAMAN, SEBATAS SEJAUH MANA KAKI KITA MEMBAWA KITA , SEBATAS SEBERAPA JENGKAL BUMI SUDAH KITA SENTUH.
NALAR KITA JUGA SEBATAS BERAPA BANYAK HATI ORANG KITA BACA ( SAMA DENGAN MEMBACA BUKU, MEMBACA PIKIRAN ORANG LAIN ).
OLEH Tagor Pangaribuan,MPd.
ADALAH BAHAN-BAHAN PEMBANDING BAIK DALAM BENTUK THEORY MAUPUN PRAKTEK , PENGALAMAN UNTUK MENJADI PEMBELAJARAN PERGERAKAN yang berkualitas BAGI BARA-NI .PEMBELAJARAN YANG DIMAKSUD BUKAN BERARTI DI ADOPSI SECARA TOTAL, SEBALIKNYA KAUM PERGERAKAN HARUS BANYAK BELAJAR DARI BERBAGAI PERGERAKAN SEBELUMNYA.
SEJARAH TIDAK BOLEH DIABAIKAN DAN TIDAK BOLEH DI BUANG , BAIK ITU BESAR ATAUPUN KECIL, BENAR ATAUPUN SALAH , GAGAL ATAUPUN BERHASIL tak terkecuali juga untuk Organisasi seperti BARA-NI.
ungkapan untuk ditelaah :
DUNIAKU SELEBAR BAHASAKU
( Wittsgentein )
BAHASAKU SELEBAR ROMBAHAN KAKIKU
artinya adalah
DUNIA PENGETAHUAN KITA SEBATAS PENGALAMAN, SEBATAS SEJAUH MANA KAKI KITA MEMBAWA KITA , SEBATAS SEBERAPA JENGKAL BUMI SUDAH KITA SENTUH.
NALAR KITA JUGA SEBATAS BERAPA BANYAK HATI ORANG KITA BACA ( SAMA DENGAN MEMBACA BUKU, MEMBACA PIKIRAN ORANG LAIN ).
OLEH Tagor Pangaribuan,MPd.
Langganan:
Postingan (Atom)